Pekanbaru. suarademokrasiriau.com -- Kegiatan dalam arah walikota pekanbaru di malam 27 rahmadan mudahan kita di beri keberkekah dan ampunan di bulan rahmadan ini, mari kita bersama memerihkan malam 27 Rohmadan tahun 2026.
Tradisi lampu colok Membuat hiasan dari lampu colok saat Ramadan merupakan sebuah tradisi masyarakat Kecamatan Payung sekaki. Secara turun-temurun tradisi lampu colok digelar saat malam 27 Ramadan 1447 H.
Bagi warga kecamatan Payung sekaki, tradisi lampu colok memiliki nilai agamis, gotong royong dan rasa kebersamaan. Bahkan saat ini lampu colok yang biasa dipasang berjejer halama kantor camat Payung sekaki yang sudah dimodifikasi.
Terlihat ribuan lampu colok dibuat dengan berbagai model. Ada berbentuk miniatur masjid, simbol-sombol Islam lainnya.
Ada lebih kurang 1500 lampu dari botol bekas dibuat di atas bingkai berupa menara gerbang berdiri tegak kokoh menjulang ke atas.
Malam ini lampu yang dibuat dari botol bekas yang di kasi sumbu dibuat dari kain khusus dengan bahan bakar minyak tanah.
Sementara lampu colok merujuk pada cara unik menyalakan lampu dengan menggunakan tongkat bambu yang menyala di ujungnya. 'Colok' begitulah cara warga kecamatan Payung sekaki menyalakan lampu botol itu dengan bergiliran.
Untuk menjaga tradisi unik agar tetap ada, Pemerintah kecamatan Payung sekaki melaksanakan Festival Lampu Colok Kreatif.
Camat Payung sekaki Yurikha Herian Danni, S.STP. M.SI menilai Festival Lampu Colok sekaligus untuk menyemarakan bulan suci Ramadan dan menyambut hari raya Idul Fitri 1447 H. tahun 2026 ini"
Khusus di halaman kantor camat Payung sekaki, terlihat ada 1500 lampu colok dinyalakan. tuturnya camat.
"Alhamdulillah malam ini lampu colok telah dinyalakan, ini adalah budaya kita," ucap camat, Senin (16/4/2026) malam.
Camat Yurikha Herian Danni, S.STP. M.SI
menilai festival lampu colok itu untuk melestarikan budaya yang identik dengan ciri khas Melayu yang di program juga oleh bapak walikota kita dan didukung warga yang hadir malam ini berlomba buat hiasan di titik halaman yang di beri lampu colok.
"Dengan diadakannya Festival Lampu Colok ini, semoga nantinya tumbuh anak-anak kreatif dalam membudayakan dan melestarikan lampu colok di kota Pekanbaru, kususnya di kecamatan Payung sekaki ini dan kedepanya kita lanjut juga pada malam takbiran nanti," tuturnya.
lanjutnya," Lampu colok di halaman kantor camat Payung sekaki ini tentunya menjadi daya pikat bagi warga yang melintas di Jalan Payung sekaki ini," tutup camat".
Tak lepas dari situ, serkretaris camat Abdullah S.Stp mendukung langkah kegiatan lampu colok ini. sudah hampir satu minggu kita mempersiap kan ini semua, sebab dahulu di setiap malam 27 Ramadan festival lampu colok rutin digelar dan selalu hadir di setiap sudut Kota Pekanbaru, kini khususnya kita lakukan di halaman kartor camat Payung sekaki.
Namun, jangan sampai tradisi ini seolah mulai meredup, maka dari itu kita tidak akan mau itu terjadi kita harus tetap semangat untuk memeriahkanya karena program ini sekali dalam setahun, kita melaksanakanya, dan besarnya harapan kita pestifal lampu colok ini tetap di lestatikan, tidak ada menjadi salah satu alasan tradisi unik tersebut tak digelar lagi.
"Semoga ke depannya kegiatan tradisi ini bisa rutin diadakan setiap tahun di malam 27 Ramadan dalam menyambut hari raya Idulfitri. "Ingat dulu masa kecil tiap Ramadan main lampu colok dan mai obor," tutup Abdullah.
(rilis - Anto)**




0 comments:
Posting Komentar